Saturday, December 07, 2013

PROFIL MUTU DAN RENCANA KERJA SEKOLAH SD INPRES SAMATA

Instrument EDS ini disusun atas dasar Lima Standar Nasional Pendidikan, Standar Kompetensi Lulusan, yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pengelolaan. Butir butir Instrumen evaluasi diri sekolah ini difokuskan pada aspek-aspek kehidupan ataupun keberadaan sekolah yang esensial, yaitu kondisi kondisi yang berkaitan dengan mutu pelayanan belajar mengajar.
Pengisian instrumen evaluasi diri sekolah ini disesuaikan dengan keadaan nyata di sekolah SD INPRES SAMATA dengan tujuan untuk menumbuhkan budaya peningkatan mutu berkelanjutan disekolah. Oleh karena itu sangat diyakini tentunya pengisian instrument evaluasi diri sekolah ini jauh dari kesempurnan, dan akhirnya kami berharap adanya kerjasama, dan kolaborasi semua pemangku kebijakan. 

I.      PENDAHULUAN 
I.1. Latar Belakang
 Semua sekolah harus mempunyai tujuan yang seharusnya dicapai dengan melaksanakan rencana yang telah disusun berdasarkan evaluasi diri sekolah dan sesuai dengan visi dan misi sekolah. Tujuan sekolah dijabarkan sesuai dengan visi dan misi sekolah sehingga cara pencapaiannya harus didasarkan atas visi dan misi tersebut. Cara pencapaian tujuan dilakukan melalui berbagai perencanaan dan program kegiatan yang dituangkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS). Perencanaan dilakukan tidak hanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga untuk meningkatkan mutu sekolah. Rencana Kerja Sekolah yang telah dikembangkan oleh tim sekolah seharusnya dapat dibaca oleh semua stakeholder sekolah untuk mengantisipasi perubahan dan usulan yang mungkin sesuai untuk memperkaya program yang telah disusun.
Program sekolah seharusnya sesuai dengan visi dan misinya agar sekolah dapat berkembang optimal. Perencanaan program dan kegiatan dalam RKS seharusnya dapat terukur dan realistis sehingga program dapat dilaksanakan. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk dan harus berdasarkan pada kondisi sekolah.Oleh sebab itu, tim sekolah perlu menganalisis data EDS untuk mengidentifikasi permasalahan sekolah dan menentukan penyebab masalah, serta mencarikan alternatif pemecahannya. EDS perlu dikaitkan dengan proses perencanaan sekolah dan dipandang sebagai bagian yang penting dalam kinerja siklus pengembangan sekolah. Sebagai kerangka kerja untuk perubahan dan perbaikan, proses ini secara mendasar menjawab 3 (tiga) pertanyaan kunci yaitu seberapa baikkah kinerja sekolah terkait dengan kriteria untuk perencanaan pengembangan sekolah dan indikator yang relevan dari standar pelayanan minimal (SPM) dan SNP, bagaimana sekolah dapat mengetahui kinerjanya terkait dengan bukti yang dimiliki sekolah untuk menunjukkan pencapaiannya, dan bagaimana sekolah dapat meningkatkan kinerjanya terkait dengan pelaporan dan tindak lanjut mengenai apa yang telah ditemukan pada perencanaan pengembangan sekolah.
RKS ini disusun berdasarkan data hasil Evaluasi Diri Sekolah Tahun 2013 yang dilakukan pada seluruh sekolah jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK melalui program pemetaan mutu pendidikan. Data Evalusi Diri Sekolah dijaring melalui angket yang disebar kepada responden yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan siswa. Angket disusun berdasarkan komponen-komponen pada Standar Nasional Pendidikan namun pada profil ini hanya enam standar yang menjadi bahan analisis yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Isi, Proses, Penilaian, Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta Standar Pengelolaan.
Hasil analisis EDS mendeskripsikan tingkat ketercapaian sekolah dalam pemenuhan SNP, skor yang digunakan menggunakan interval 0 - 10 dengan pembagian pencapaian SNP sebagai berikut:  
Tabel 1. Kriteria Capaian SNP
KELOMPOK
Y
X

MENUJU SNP 1
Y
65%
∑n.X/n
65%

MENUJU SNP 2
Y
> 
65%
∑n.X/n
65%

MENUJU SNP 3
Y
65%
∑n.X/n
> 
65%

SNP
Y
> 
65%
∑n.X/n
> 
65%

DI ATAS SNP
Y
> 
90%
∑n.X/n
> 
90%

Keterangan :

STANDAR
BOBOT
Y
SKL

X1
ISI
20%
X2
PROSES
30%
X3
PENILAIAN
15%
X4
PTK
25%
X5
PENGELOLAAN
10%

Sekolah dikatakan telah mencapai kriteria Menuju SNP 1 apabila skor untuk Standar Kompetensi Lulusan (Y) lebih kecil dari 6,5 dan jumlah standar lainnya berdasarkan bobot yang ditetapkan juga lebih kecil dari 6,5. Kriteria Menuju SNP 2 apabila skor untuk Standar Kompetensi Lulusan (Y) lebih besar atau sama dengan 6,5 dan jumlah standar lainnya berdasarkan bobot yang ditetapkan lebih kecil dari 6,5. Kriteria Menuju SNP 3 apabila skor untuk Standar Kompetensi Lulusan (Y) lebih kecil dari 6,5 dan jumlah standar lainnya berdasarkan bobot yang ditetapkan lebih besar atau sama dengan 6,5. Kriteria Mencapai SNP apabila skor untuk Standar Kompetensi Lulusan (Y) lebih besar atau sama dengan 6,5 dan jumlah standar lainnya berdasarkan bobot yang ditetapkan juga lebih besar atau sama dengan 6,5. Kriteria Di Atas SNP apabila skor untuk Standar Kompetensi Lulusan (Y) lebih besar atau sama dengan 9,0 dan jumlah standar lainnya berdasarkan bobot yang ditetapkan juga lebih besar atau sama dengan 9,0.

I.2. Tujuan
Tujuan dari penyusunan Profil Mutu dan Rencana Kerja Sekolah yaitu:

  1. Menjamin agar tujuan sekolah dan sasaran yang ingin dicapai dapat terwujud; 
  2. Mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; 
  3. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergitas baik intra pelaku sekolah, antar sekolah maupun dinas pendidikan provinsi/ kabupaten/ kota; 
  4. Menjamin keterkaitan antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan, dan pengawasan; 
  5. Mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat; 
  6. Menjamin penggunaan sumber daya sekolah yang ekonomis, efisien, efektif,berkeadilan ,berkelanjutan , serta memperhatikan kesetaran jender.

I.3. Sasaran
Sasaran penyusunan Profil Mutu dan Rencana Kerja Sekolah sebagai berikut :
  1. Terwujudnya rencana kerja tahunan dan rencana kerja menengah, 
  2. Terealisasinya semua aktifitas program kerja tahunan dan jangka menengah di SD Inpres Samata, 
  3. Lebih efektif, efesien dalam hal perencanaan, penggunaan serta pengawasan dana sekolah yang dikelola baik yang bersumber dari APBN, maupun pemerintah provinsi/ kabupaten/ kota.

I.4. Dasar Hukum
Dasar hukum penyusunan Profil Mutu dan Rencana Kerja Sekolah antara lain:
  1. UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional,
  2. PP Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 
  3. Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 
  4. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar Dan Menengah, 
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah, 
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan, 
  7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13/2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, 
  8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16/2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru, 
  9. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah.

II.               PENCAPAIAN SNP SD INPRES SAMATA

Skor pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing standar dibandingkan rata-rata skor pencapaian untuk tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi, dan nasional digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Grafik Skor Pencapaian SNP SD Inpres Samata

Gambar 1 Menunjukan bahwa ada dua  standar yang telah melampaui pencapaian skor tingkat Kabupaten,kota, provinsi dan nasional yaitu Standar Penilaian dan Standar Kelulusan, serta Standar Pengelolaan, Standar Isi, Proses, Pendidik dan Tenaga Kependidikan masih berada di bawah pencapaian skor tingkat Kabupaten kota, provinsi, dan nasional Pencapaian terendah berada pada standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan Standar Proses. Status SNP SD Inpres Samata berdasarkan bobot yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:
Y
∑n.X/n
5.852880658
5.022068337


Standar Kompetensi Lulusan (Y) masih di bawah 6,5  dan jumlah standar lainnya juga di bawah 6,5. Dengan demikian, berdasarkan bobot untuk masing-masing standar sebagaimana ditetapkan sebelumnya, SD Inpres Samata memiliki status “Menuju SNP 1”.
Berikut ini juga disajikan tingkat pencapaian dari masing-masing indikator untuk setiap Standar Nasional Pendidikan:

1.      Standar Kompetensi Lulusan

Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas lima indikator sebagai berikut :
  1. Prestasi siswa/lulusan 
  2. Lulusan menunjukkan karakter (jujur, disiplin, bertanggungjawab, dan menghargai orang lain) 
  3. Lulusan mampu berpikir logis dan sistemati 
  4. Lulusan mampu berkomunikasi efektif dan santun 
  5. Lulusan memiliki kemampuan mengamati dan bertanya untuk berpikir dan bertindak produktif serta kreatif
Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Kompetensi Lulusan ditunjukkan pada gambar berikut:
                     Gambar 2. Diagram Pencapaian Indikator Standar Kompetensi Lulusan
Gambar 2 Menunjukkan bahwa terdapat dua indikator untuk Standar Kompetensi Lulusan yang telah memenuhi serta melampaui Standar nasional yaitu Lulusan me nunjukan karakter (jujur,disiplin,bertanggungjawab, dan menghargai orang lain) dan Indikator Prestasi Siswa/lulusan dengan skor lebih dari 6,5. Indikator yang masih perlu mendapat perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah yaitu Indikator Lulusan mampu berkomunikasi efektif dan santun, berpikir logis dan sistematis, serta Indikator lulusan memiliki kemampuan mengamati dan bertanya untuk berpikir dan bertindak produktif serta kratif  yang pencapaiannya masih di bawah 6,5.   

2.      Standar Isi
Standar Isi terdiri atas empat indikator sebagai berikut :
a.       Kurikulum sesuai dengan kurikulum nasional
b.      Kurikulum disusun secara logis dan sistematis
c.       Kurikulum relevan dengan lingkungan dan kebutuhan
d.      Revisi kurikulum dilakukan secara berkala

Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Isi ditunjukkan pada gambar berikut:
                                    Gambar 3. Diagram Pencapaian Indikator Standar Isi

Gambar 3 menunjukkan bahwa terdapat dua indikator pada standar isi yang telah memenuhi standar nasional yaitu indikator kurikulum disusun secara logis dan sistematis dan indikator kurikulum sesuai dengan kurikulum nasional. Indikator yang masih perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah yaitu Indikator Kurikulum sesuai dengan kurikulum nasional, serta Indikator Revisi kurikulum dilakukan secara berkala, dan Kurikulum relevan dengan lingkungan dan kebutuhan yang skor pencapaiannya masih di bawah 6,5.

3.      Standar Proses
Standar Proses terdiri atas delapan indikator sebagai berikut :
a.       RPP yang dikembangkan sesuai dengan SKL dan standar isi serta memenuhi aspek kualitas;
b.    PBM dilakukan secara efisien dan efektif untuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku;
c.       PBM mengembangkan karakter jujur, disiplin, bertanggungjawab, dan menghargai orang lain;
d.      PBM mengembangkan kemampuan berkomunikasi efektif dan santun;
e.       PBM mengembangkan kreatifitas peserta didik;
f.       PBM mengembangkan budaya dan kemandirian belajar;
g.      Interaksi guru-siswa mendukung efektifitas PBM;
h.      Suasana akademik di sekolah mendukung pembelajaran (kondusif).
Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Proses ditunjukkan pada gambar berikut:
                                 Gambar 4. Diagram Pencapaian Indikator Standar Proses

Gambar 4 menunjukkan bahwa belum ada indikator pada Standar Proses yang telah mencapai Standar Nasional Pendidikan sehingga keseluruhan indikator perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah.

4.      Standar Penilaian

Standar Penilaian terdiri atas lima indikator sebagai berikut :
a.       Guru menggunakan prinsip-prinsip penilaian;
b.      Guru melakukan perancangan penilaian;
c.       Guru menyusun instrumen sesuai dengan kaidah yang baku;
d.      Sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal;
e.       Sekolah memiliki dokumen prosedur dan kriteria penilaian.
Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Penilaian ditunjukkan pada gambar berikut:



                              Gambar 5. Diagram Pencapaian Indikator Standar Penilaian

Gambar 5 menunjukkan bahwa terdapat Tiga Indikator pada Standar Penilaian yang memenuhi standar nasional yaitu Sekolah memiliki dokumen prosedur dan kriteria penilaian, Guru melakukan perencanaan penilaian dan Guru menggunakan prinsip - prinsip. Indikator lainnya masih perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah yaitu Indikator Sekolah Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal serta Guru Menyusun Instrumen sesuai dengan kaidah yang berlaku

5.      Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan terdiri atas dua indikator sebagai berikut :
a.       Guru dan tenaga pendidikan profesional dalam bidangnya;
b.  Peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah;
Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan ditunjukkan pada gambar berikut:

     Gambar 6. Diagram Pencapaian Indikator Standar Pendidik dan Tenaga   Kependidikan

Gambar 6 menunjukkan bahwa belum ada indikator pada Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang mencapai Standar Nasional Pendidikan sehingga keseluruhan indikator perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah.

6.      Standar Pengelolaan

Standar Pengelolaan terdiri atas tujuh indikator sebagai berikut :
a.       Visi, misi, dan tujuan sekolah sesuai dengan EDS;
b.      Visi, misi, dan tujuan sekolah dipahami oleh semua warga sekolah;
c.       Rencana kerja sekolah sesuai EDS;
d.      Rencana kerja sekolah berorientasi mutu;
e.       Perencanaan sekolah terkait peningkatan mutu Proses Belajar Mengajar;
f.       Pimpinan melakukan supervisi dan evaluasi sesuai standar.
Tingkat pencapaian SD Inpres Samata untuk masing-masing indikator pada Standar Pengelolaan ditunjukkan pada gambar berikut:

                         Gambar 7. Diagram Pencapaian Indikator Standar Pengelolaan

Gambar 7 menunjukkan bahwa terdapat Tiga  Indikator pada Standar Pengelolaan yang mencapai Standar Nasional Pendidikan yaitu Suasana organisasi mendukung program sekolah, Rencana kerja sekolah berorientasi mutu, serta Visi Misi dan tujuan sekolah dipahami oleh semua warga sekolah sehingga keseluruhan indikator perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif dari pihak sekolah.


III.    ANALISIS AKAR MASALAH
 
Analisis akar masalah terdiri atas Identifikasi masalah, Rumusan masalah, Penentuan Akar masalah, serta Faktor Pendorong dan Penghambat. Masalah diidentifikasi berdasarkan pertanyaan-pertanyaan EDS dengan skor di bawah 5.

III.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan data EDS Tahun 2013, diketahui bahwa masalah yang ada pada SD Inpres Samata yaitu:
Permasalahan
Rumusan Masalah
Guru menemukan permasalahan tentang prilaku peserta didik yang kurang memiliki kemampuan mengamati dan bertanya untuk berpikir dan bertindak produktif serta kreatif
Guru kurang menerapkan proses belajar mengajar dengan metode mengajar untuk bertanya dan menemukan sendiri secara kereatif.
Guru kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan serta berkomunikasi secara efektif dan santun.
Guru kesulitan dalam meningkatkan kemampuan.  Peserta didik butuh berkomunikasi secra lisan dan tulisan serta berkomunikasi secara efektif dan santun.
Disekolah permasalahan revisi kurikulum tidak dilakukan secara berkala, kurikulum seharusnya relevan dengan lingkungan dan kebutuhan sekolah
Sekolah seharusnya melaksanakan dan menyusun kurikulum yang relevan dengan lingkungan dan kebutuhan sekolah dan seharusnya dilakukan revisi secara berkala.
Guru menemukan permasalahan dalam PBM kurang mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengembangkan kreativitas peserta didik tentang budaya daerah karakter peserta didik
Guru tidak mengembangkan kemampuan peserta didik dan kreatifitas tentang pemahaman budaya daerah dan karakter peserta didik.
Guru menemukan permasalahan menyusun instrumen sesuai dengan kaidah yang berlaku
Gru tidak mnyusun instrumen sesuai dengan kaidah yang berlaku
Guru menemukan permasalahan kurangnya peningkatan kompetensi  tentang PTK yang dilakukan untuk memiliki kelulusan sekolah.
Guru tidak berusaha untuk meningkatkan kompetensinya tentang penyusuaian PTK sebagai kebutuhan sekolah..
Sekolah atau pimpinan dalam melakukan supervisi dan evaluasi standar yang berlaku
Pemimpin sudah melaksanakan supervisi dan evaluasi dengan standar yang berlaku namun waktu pelaksanaanya belum maksimal

III.2 Penentuan Akar Masalah
Rumusan Masalah
Akar Masalah  (Penyebab Masalah)
Guru kurang menerapkan PBM dengan metode mengajar yang  selalu baik  untuk bertanya dan menemukan sendiri secara kreatif.
Guru kurang atau tidak menerapkan PBM dengan efektif dan efisien karena kurang paham.
Sekolah melaksanakan dan menyusun kurikulum yang relevan dengan lingkungan dan kebutuhan sekolah melakukan revisi secara berkala.
Sekolah sudah melaksanakan menyusun kurikulum yang relevan dengan lingkungan kebutuhan sekolah dengan dilakukannya supervisi secara berkala.
Guru mengembangkan kemampuan peserta didik dan kreativitas tentang pemahaman budaya daerah dan karakter peserta didik.
Guru tidak mengembangkan kemampuan kreativitas peserta didik tentang budaya daerah karena Guru sendiri tidak paham
Guru tidak menyusun instrumen penilaian tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku
Guru tidak menyusun istrument penilaian dengan baik karena guru sendiri kurang paham.

Guru tidak berusaha untuk meningkatakan kompetensinya tentang penyususna PTK sebagai kebutuhan sekolah
Guru tidak berusaha meningkatkan kompetensinya tentang penyusunan PTK sebagai suatu kebutuhan
Pimpinan dalam melakukan supervisi dan evaluasi sudah sesuai dengan kaidah yang berlaku
Pimpinan sudah melakukan supervisi dan evaluasi sesuai dengan kaidah yang berlaku namun terbatas dengan waktu pelasanaan.

III.3 Faktor Pendorong dan Penghambat
No
Akar Masalah
Faktor Pendorong
Faktor Penghambat
Solusi permasalahan
1
Guru kurang menerapkan PBM dengan metode mengajar yang lebih baik untuk bertanya dan menemukan sendiri secara kreatif
Peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk belajar
Tidak semua guru mampu menerapkan metode yang bervariasi untuk menyampaikan pembelajaran
Melibatkan semua guru dalam mengikuti kegiatan KKG
2
Sekolah tidak menyusun kurikulum yang relevan dengan lingkungan dan kebutuhan sekolah
Semua guru harus terlibat dalam penyusunan kurikulum dan kepala sekolah merefisi secara berkala
Tidak semua guru terlibat dalam merevisi kurikulum
Melibatkan semua guru dalam merevisi kurikulum secara berkala
3
Guru kurang mengembangkan kemampuan kreativitas peserta didik tentang budaya daerah karena guru sendiri tidak paham
Guru mengenal lebih detail tentang budaya daerah
Tidak ada guru senior yang dapat memberi pelatihan tentang budaya budaya daerah.
Melibatkan semua guru dalam setiap kegiatan utamanya tentang permasalahan budaya daerah
4
Guru belum menyusun instrumen baik karena guru sendiri kurang paham
Semua guru sebaiknya perlu dilibatkan dalam hal cara penilaian  dengan baik
Tidak semua guru mampu melaksanakan penyusunan instrumen penilaian dengan baik
Melibatkan semua guru dalam hal penyusunan instrumen penilaian dengan baik dan benar
5
Guru tidak berusaha untuk meningkatkan kompetensinya tentang penyususnan PTK sebagai suatu kebutuhan
Ada guru senior yang akan membimbing tentang penyusunan PTK
Masih ada guru yang kurang memahami pengunaan IT dalam pembuatan PTK
Melibatkan semua guru dalam kegiatan tentang hal penyusunan PTK
6
Pimpinan sudah melakukan / melaksanakn supervisi dan evaluasi sesuai dengan kaidah yang berlaku namun terbatas dengan waktu yang berjalan
Guru siap di supervisi
Kadang masih ada guru yang belum siap untuk di supervisi
Melibatkan semua guru untuk di supervisi

IV.           SOLUSI ALTERNATIF

Alternatif solusi terdiri atas penentuan solusi serta kekuatan dan kelemahan solusi yang diberikan sebagaian diberikan pada tabel berikut :

Solusi Alternatif
Kekuatan
Kelemahan
Melibatkan semua guru yang mengalami masalah dalam PBM untuk mengikuti KKG yang berkualitas
pada umumnya guru mencoba metode baru dalam mengajar, adanya guru senior yang berpengalaman dalam membimbing
sulitnya mengubah mindset guru dlm PBM tidak bersedia tutor mengawasi semua PBM.
Mengikutkan dalam kegiatan KKG untuk mengatasi permasalahan PBM
KKG dilaksanakan secara rutin. Kepala sekolah mendukung pelaksanaan KKG
Ada guru yang memiliki permasalahan PBM tidak ikut KKG
Meningkatkan kompetensi guru dalam hak pemanfaatan IT pemanfaatan sumber belajarn lainnya.
Sarana prasarana IT oleh masing-masing guru tersedia.
Sebagaian besar guru malas menggunakan IT dalam PBM.
Meningkatkan pemahaman guru memahami tugas layanan bimbingan dan konseling

Ada beberapa guru senior dan berprestasi yang memahami masalah pelayanan bimbingan dan konseling
Adanya fasilitas untuk pelayanan bimbingan dan konseling
Adanya dukungan kepala sekolah terhadap pembentukan layanan bimbingan dan konseling
Guru senior sibuk membina siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler
Hanya ada sedikit dana untuk pembinaan guru untuk pelayanan bimbingan dan konseling
Mengusulkan kepada Dinas Pendidikan untuk merekrut tenaga layanan bimbingan dan konseling
Adanya tenaga honorer untuk pelayanan bimbingan dan konseling yang di biayai oleh sekolah
Adanya komitmen yang baik petugas layanan bimbingan dan konseling
Pengusulan kepada dinas pendidikan mengenai petugas layanan bimbingan dan konseling tidak pernah ditanggapi
Dana untuk memberi insentif untuk petugas honorer layanan bimbingan dan konseling sangat sedikit
Sekolah dan orang tua peserta didik menjalin komunikasi untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan layanan bimbingan dan konseling dan mencari jalan keluarnya

Adanya kebutuhan peserta didik dalam hal layanan bimbingan dan konseling
Kebutuhan orang tua terhadap layanan bimbingan  dan konseling bagi anak-anaknya
Sekolah belum membuat peta layanan bimbingan dan konseling untuk peserta didik
Tidak mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus
Tidak ada komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua dalam rangka layanan bimbingan dan konseling
Meningkatkan kegiatan KKG untuk membahas permasalahan-permasalahan penilaian dan instrumennya
KKG dilaksanakan secara rutin
Tersdianya dana untuk kegiatan KKG

Seluruh guru bermasalah dengan penilaian tetapi di KKG tidak pernah membahas mengenai penilaian

V.               SKALA PRIORITAS PROGRAM / KEGIATAN

Program
Kegiatan
Peningkatan pembelajaran yang berkualitas
1.      Pelaksanaan pembelajaran remedial
2.      Pelaksanaan penelitian tindakan kelas
Peningkatan kualitas guru dalam penguasaan strategi pembelajaran afektif
Pelatihan guru dalam pembelajaran yang efektif
Peningkatan kualitas penilaian
1.      Penyusuna instrument penilaian da prosedur penilaian
2.      Pengujian kesahihan instrumen penilaian

VI.           MATRIKS RENCANA KERJA SEKOLAH

Indikator ketercapaian tujuan/sasaran sekolah
Cara mencapai tujuan/sasaran
Jadwal
Program
Kegiatan
Meningkatnya kualitas pembelajaran
Peningkatan kualitas pembelajaran
1.   Penerapan pembelajaran berbasis masalah
2.      Pelaksanaan pembelajaran remedial



Januari 2014
Meningkatnya kualitas guru dalam penguasaan strategi pembelajaran efektif
Peningkatan kualitas guru dalam penguasaan strategi pembelajaran efektif
1.      Pelatihan guru dalam pembelajaran yang efektif



Mei 2014


Meningkatnya kualitas penilaian
Peningkatan kualitas penilaian
1.      Penyusunan instrument penilaian dan prosedur penilaian
2.      Pengujian


Agustus 2014



KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan
Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan proses evaluasi diri yang didorong secara internal oleh sekolah itu sendiri dengan melibatkan  pemangku kepentingan  guna melihat kinerja sekolah  terhadap pencapaianSPMdan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar dalam peningkatkan mutu  proses belajar mengajardan hasil belajar siswa.

B. Saran
1. Untuk Guru
Pelaksanaan EDS perlu dilakukan secara bergiliran oleh guru sehingga  guru yang lain mendapat kesempatan yang sama dan paham mengenai EDS.
2.Untuk Pengawas Sekolah
Perhatian terhadap sekolah perlu ditingkatkan dan dalam proses  bimbingan terhadap sekolah tidak membandingkan hasil antara sekolah satu dengan yang lainnya karena tiap sekolah memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
3.Untuk Sekolah
Program EDS perlu tetap dipertahankan untuk dilaksanakan karena  membawa nilai positif yang lebih kepada pe ngelolaan sekolah termasuk
Mengetahui kekurangan sekolah pada tahun ajaran sebelumnya  sehingga bisa langsung diperbaiki dalam rangka peningkatan mutu  bertahap berkelanjutan



"hanya sekedar ingin berbagi"
Artikel Terkait
Comments
0 Comments

0 komentar:

Pilih Berita